Selasa, 05 Maret 2013

Home » » Dompet Dhuafa: Wakaf Bisa Dibuat Model Produktif

Dompet Dhuafa: Wakaf Bisa Dibuat Model Produktif

Aset wakaf disewakan, hasilnya digunakan untuk program pemberdayaan masyarakat



Mafaza-Online.com | TANGERANG SELATAN–Dompet Dhuafa terus-menerus melakukan inovasi dalam mengembangkan pengelolaan aset-aset wakaf yang diamanahkan melalui Tabung Wakaf Indonesia (TWI). Dengan modal kepercayaan masyarakat kepada Dompet Dhuafa yang kini memasuki usia ke-20, aset wakaf tersebut terus diputar secara akuntabel sehingga berfungsi produktif, dan menghasilkan surplus yang terus dapat dialirkan tanpa mengurangi modalnya.

“Berbeda dengan zakat yang harus dibagi habis, wakaf menjadi salah satu instrumen besar dalam mengangkat harkat dan martabat kaum dhuafa karena sifatnya yang sustain,” ungkap Presiden Direktur Dompet Dhuafa, Ismail A. Said dalam acara peletakkan batu pertama pembangunan gedung SMP Al Syukro di Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (1/3) yang juga dihadiri oleh Parni Hadi, sebagai pendiri Dompet Dhuafa.

Ismail mencontohkan Perguruan Islam Al Syukro yang diwakafkan kepada Dompet Dhuafa dua tahun lalu. Sekolah Al Syukro ini menjadi salah satu model pengembangan wakaf produktif Dompet Dhuafa. Dengan sekolah ini Dompet Dhuafa fokus mencetak siswa berkualitas dengan pengelolaan manajemen yang handal, mandiri finansial, dan juga mampu untuk terus mengembangkan fasilitas pendidikan.

Selain itu, Ismail juga mencontohkan lahan wakaf yang saat ini tengah dibangun kontrakan di bilangan Ciledug, Kota Tangerang, beberapa Rumah Toko (Ruko) dan Food Court di Bekasi, juga Training and Meeting Centre di Gedung Wardah, Karawaci.

“Semua aset wakaf itu disewakan kepada masyarakat dan hasilnya digunakan untuk program pemberdayaan masyarakat,” jelasnya. 

Lain halnya dengan tanah kosong yang berada di Cileungsi, Bogor Jawa Barat. Di atas lahan itu Dompet Dhuafa menanam pohon sengon, yang dalam beberapa tahun dapat dipanen. “Kita tahu, pohon sengon memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dan menjadi investasi yang menjanjikan,” kata Ismail.

Dikatakan Ismail, negeri tetangga, Singapura selangkah lebih maju dalam mengelola dan memanfaatkan asset wakaf secara produktif. “Di sana, asset wakaf sudah menjadi apartemen, pertokoan, klaster dan commercial unit lainnya,” terangnya. “Keuntungan dari aset-aset tadi digunakan untuk membiayai operasional masjid, bantuan sosial dan aktivitas social keagamaan lainnya,” tambah Ismail. 

Semua bisnis sosial di atas dikelola Dompet Dhuafa sebagaimana usaha pada umumnya, berorientasi pada pengelolaan yang efektif dan efisien serta mampu menghasilkan surplus seoptimal mungkin.

“Dengan demikian, upaya untuk membangun umat, mengangkat harkat dan martabat kaum dhuafa menjadi lebih maksimal karena transparan dan akuntabel selain ditopang sumber pendanaan yang terus berkembang, melalui Wakaf Produktif termasuk penguatan di bidang pendidikan,” pungkas Ismail.


Kesabaran Rakyat Gaza, Teladan Pembinaan Karakter Siswa
Share this article :

Poskan Komentar