Selasa, 05 Februari 2013

Home » » Ustadz Son Hadi Juru Bicara Jamaah Ansharut Tauhid (JAT): Ada yang Sengaja Memperpanjang Proyek Terorisme

Ustadz Son Hadi Juru Bicara Jamaah Ansharut Tauhid (JAT): Ada yang Sengaja Memperpanjang Proyek Terorisme

Son Hadi Juru Bicara Jamaah Anshorut Tauhid
Dulu diyakini Gerge W Bush yang memimpin perang terhadap terorisme. Meski, Bush lengser ternyata dunia Islam masih saja menjadi incaran. Musuh-musuh Islam seperti serigala lapar yang terus mengintai mangsanya. Sedikit saja umat Islam lengah maka dicabik-cabiklah menjadi santapan gratis.
Di Indonesia, masih ada saja upaya untuk menyulut bara. Seperti konflik Poso kadang hilang kadang tampak. Padahal tak kurang dari mantan wapres Jusuf Kalla ikut menangani kasus ini. Tapi, Poso masih saja tak bisa diredam penuh. Wajar bila sebagian orang tidak percaya bahwa konflik itu benar-benar ada.
Dalam perang terorisme ini, di Indonesia yang selalu menjadi buruan adalah Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Meski Amir JAT Ustadz Abu Bakar Baasyir sudah disel —bahkan tak sekadar penjara biasa, tapi di Nusa Kambangan di sel Super Maksimun Security— tokh perburuan tetap tak berhenti. Untuk mendalami hal ini, Eman Mulyatman mewawancarai Ustadz Son Hadi selaku Juru bicara JAT. Berikut petikannya:              


Mengapa Poso terus bergolak?

Konflik Poso di masa lalu yang belum tuntas masih menyisakan beberapa hal. Pertama, faktor diskriminasi penegakan hukum di Poso, misalnya, kalau pelaku konflik itu seorang muslim maka mereka dilabeli “teroris”, sedangkan jika pelakunya orang Kristen hanya dituduh sebagai pelaku kriminal biasa. Ingat kasus Tibo cs, mereka tidak pernah dikatakan sebagai “teroris” meskipun telah membunuh ratusan santri Pesantren Walisongo Poso.
Kedua, keadaan konflik tersebut kemudian mereka pahami sebagai ladang jihad sehingga proses pembinaan dan pemahaman jihad pada mereka yang di Ambon dan Poso lebih matang dibanding di luar daerah konflik. Dua hal inilah yang kemudian mendorong mereka untuk terus berjihad.

Apakah karena faktor adanya perjanjian di Filipina dengan Pejuang Moro, mereka yang tidak puas lalu lari ke Poso?

Meskipiun hubungan antara mujahidin di Indonesia dan Moro telah terjalin begitu lama, namun tak berarti Mujahidin Moro lantas begitu mudah lari ke Poso, karena kondisi geopolitik dan geografi tidak kondusif bagi perjuangan mereka (Moro).

Di Poso mereka berani menantang Densus 88, dan kabarnya mendapat senjata dari oknum TNI? Lalu siapa yang bermain?

Sudah lazim pada setiap konflik senjata di mana pun, pasti ada broker senjata yang bermain dan memanfaatkan konflik, baik itu oleh perorangan atau pun mafia senjata.

Kasus Poso, Bima dan Makassar selalu dikaitkan dengan Ustadz Abu dan JAT, apa komentarAnda?

Ini jelas menunjukkan ketidakmampuan penguasa dalam mengatasi konflik ini, dan saya yakin ini disengaja dilakukan untuk memperpanjang proyek terorisme di Indonesia.

Apa ada cabang Ponpes Ngruki atau JAT di Poso atau Bima?

Kalau di Bima, sudah berdiri JAT Markaziyah Wilayah Nusa Tenggara Barat, sedangkan di Poso yang ada baru simpatisan.

Kebiadaban terhadap 7 orang itu, apa akan dibawa ke ranah hukum?

Sudah seharusnnya hal itu masuk ranah hukum karena itu termasuk extraordinary crime yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Jika tidak ditegakkan hukum atas peristiwa ini, dikhawatirkan justru melahirkan “terorisme negara” dan jika ini terjadi, maka lebih berbahaya bagi kemanusiaan.

Tausyiah Ustadz Abu dari Penjara Nusa Kambangan, apa tidak justru malah memanaskan situasi?

Sebagai seorang ulama, Ustad Abu senantiasa memberikan respons terhadap kejadian yang menimpa dengan berdasarkan syariat dan tiada kompromi sedikitpun dengan kebatilan.

Apa alasan Ustadz Abu dipindahkan ke Super Maximum Security?

Pertama, pemindahan Ustadz Abu ke LP super maksimum security merupakan makar jahat penguasa thoghut untuk memperoleh simpati dan dukungan Amerika dalam melanggengkan perang terhadap terorisme setelah beberapa hari sebelumnya terjadi pelanggaran HAM berat oleh Densus yang membunuh tujuh muslim di Makassar dan Bima.

Kedua,  pempindahan mendadak ini merupakan bentuk intimidasi yang dilakukan oleh penguasa thoghut kepada Ustadz Abu Bakar Baasyir yang senantiasa memberikan nasihat dan tadzkiroh (peringatan). Pada penguasa yang mengatur negeri ini dengan hukumt thoghut.

Ketiga, seruan ust Abu pada penguasa utk kembali pada syariat Allah adalah semata amanah dakwah yang beliau emban, adapun penentangan serta permusuhan terhadap dakwah hanyalah mengundang bala dan bencana dari Allah SWT dan pemindahan ust Abu ke panjara super maksimun security adalah bentuk nyata penentangan dan permusuhan terhadap dakwah tauhid yang beliau sampaikan.

Komisi III DPR RI menawarkan agar mereka yang dizalimi Densus 88 melapor, mengadu ke Komisi III. Apa tanggapan Anda?

Sudah seharusnya Komisi III berperan aktif dan serius dalam urusan kedzaliman Densus 88 pada umat Islam. Tidak saja hanya urusan politis tetapi juga harus berani mengevaluasi kinerja Densus 88, bahkan seharusnya merekomendasikan pada pemerintah untuk membubarkannya, karena Densus sudah berubah menjadi monster yang membahayakan nilai-nilai kemanusiaan.

Apa tanggapan Anda terhadap program deradikalisasi BNPT?

Derakalisasi yang diusung Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tak lebih dari ekspresi paronoid Barat terhadap Islam. Paranoid ini yang tercipta karena ulah mereka (Barat) sendiri akibat menghegemoni dunia Islam atas nama demokrasi. Dan deradikalisasi tidak akan berhasil jika dilandasi oleh sikap kebencian, pelecehan dan penghinaan syariat Islam. Karena syariat Islam adalah kebenaran yang absolut.

Hendaknya BNPT mulai berpikir untuk memberi ruang pada umat Islam untuk mengekspresikan syariat Islam dalam kehidupan mereka secara politik, ekonomi, sosial dan budaya. Selanjutnya berkompetisi secara sehat dan jujur, sampai terbukti mana yang lebih bisa memberikan solusi pada setiap problematika kemanusiaan.

Deradikalisasi juga menggunakan umat Islam. Apa bisa disebut bahwa ini politik “belah bambu”?

Yang terjadi memang seperti itu dan yang saya heran, mengapa paham keagamaan organisasi masyarakat (ormas) yang sudah demikian matang tentang konsepsi jihad, syariat Islam sejak puluhan tahun yang lalu, mudah didikte oleh BNPT yang baru kemarin sore lahir secara prematur?

Selalu umat Islam yang menjadi korban, Apa tanggapan Anda?

Adalah dosa besar bagi ulama, kiai dan tokoh umat yang selalu menjadikan atau membiarkan umat jadi korban. Solusinya, kita harus kembali pada syariat dan hal ini sudah dijelaskan oleh Nabi, “Apabila engkau kembangkan bisnis innah (riba) dan kau sibuk berternak dan bertani serta engkau meninggalkan jihad, maka kau akan berada terus dalam kehinaan, sampai engkau kembali pada diin-mu.”

Kenapa yang diburu justru JAT, padahal ustadz Abu sudah masuk Penjara dan tak sekadar penjara tapi Nusakambangan dan di sel khusus Super Maksimum Security. Bahkan JAT masuk organisasi teroris di PBB?

Proyek terorisme butuh ikon dan untuk kawasan asia ikon yang diterorisasi adalah ustadz abu dan jat oleh karena selalu dirancang skenario sistemik bahwa jat hrs terlibat teror dan inilah awal proyek jangka panjang terorissasi umat islam

JAT diburu hampir tidak ada pembelaan yang memadai baik atau tidak dijenguk dari Ormas-ormas Islam (Majelis Mujahidin, FPI atau FUI) apalagi partai-partai Islam? Benar begitu atau apakah ada permainan lain?

Pembelaan ormas dan parpol Islam tetap ada, dan jalinan silaturrahim pun tetap terwujud. Sekarang ormas dan orpol masih disibukan dengan agenda internal dan keumatan sesuai dengan prioritas masing-masing.

Bagaimana kabar Ustadz ABB, apa dampak penulisan Tadzkiroh jilid 1 dan 2 dan seruannya dari penjara?

Alhamdulillah seruan dan tadzkiroh beliau bagi umat, penguasa dan bawahannya mendapat respons yang cukup signifikan, dan tentu ada yang menerima dan menolak, tetapi bagi beliau itu tidak penting. Yang jelas, beliau telah sampaikan kebenaran dan beliau berprinsip, “Jika kami mengatakan kebenaran pasti akan mati dan jika kami tidak mengatakan kebenaran pasti kami pun akan mati. Maka kami akan mati dengan mengatakan kebenaran, dan kami pun akan mengatakan kebenaran meskipun taring-taring anjing mencabik-cabik daging kami, meskipun paruh-paruh burung mematuk-matuk kepala kami. Hidup kami hanya untuk Allah, kami mati karena membela agama Allah.

Editor: Lufti Avianto

Biodata
Nama: Son Hadi
Jabatan: Juru Bicara Jamaah Ansharut Tauhid
Tempat Tanggal lahir: Pasuruan, 12 Mei 1971
Status pernikahan : Menikah
Pendidikan: Mahad Ali Persis Bangil 1996

Kutipan:
“Apabila engkau kembangkan bisnis innah (riba) dan kau sibuk berternak dan bertani serta engkau meninggalkan jihad, maka kau akan berada terus dalam kehinaan, sampai engkau kembali pada diin-mu.” (al Hadits)


Sumber: Majalah Sabili edisi 7/XX


Nasi Jagung Manglie: Solusi untuk Penderita Diabetes


Share this article :

Poskan Komentar