Rabu, 23 Januari 2013

Home » , » Semangat Baja Gadis Belia

Semangat Baja Gadis Belia




Biarpun hari-harinya harus makan nasi dengan mie instan saja, Ai bukanlah gadis belia yang mudah menyerah


Keterbatasan tak membuatnya harus berhenti untuk meraih cita-cita. Namun begitu tetap saja perjalanan hidup yang dilaluinya masih terjal. Dalam umur yang masih belia, ujian telah datang kepadanya dan meretas cita-cita bukanlah hal yang mudah bisa dilakukan.


Oleh Deffy Ruspiandy

Awalnya, Ai Hasanah menapaki kehidupan dengan penuh kebahagiaan. Ia punya keluarga yang hangat. Kedua orangtua yang lengkap dengan kakak dan adik. Kehangatan itu lantas berubah menjadi pedih ketika Mei setahun lalu, sang bunda menghadap Sang Khaliq sebab kanker rahim yang diderita.

Justru persoalan kian mendera dirinya tatkala sang ayah menikah lagi. Sang kakak yang sudah menikah memiliki problem masing-masing karena harus mengurus anak dan suaminya. Ayahnya justru tinggal di Cikijing, Majalengka, Jawa Barat dan karena satu sebab ayahnya jarang memperhatikan kedua anaknya itu. Ai dan adiknya, Rizki Jalaludin, tinggal di sebuah kamar yang diberikan sang uwak. Namun apa mau dikata, mungkin itulah jalan yang terbaik diberikan Allah.

Ai dan adiknya memang tak patah arang. Hidup dalam kesederhanaan ia tetap terus sekolah dan tak pernah menyesal dengan keadaan yang terjadi. Biarpun terkadang tak ada ongkos yang dimilikinya, ia kadang pinjam ke tetangga dulu agar ia bisa tetap bersekolah. Rupanya perhatian pun muncul dari guru-gurunya dengan semangat belajar yang ditunjukkannya.

Beberapa orang gurunya selalu memberi uang jajan padanya dan sengaja ia sisakan untuk membayar pinjaman pagi hari kepada tetangganya. Tak besar sih, yang dipinjamnya, paling hanya tiga ribu rupiah. Namun bagi Ai uang itu sangat berarti karena mampu dipakai ongkos angkot agar ia tidak bolos sekolah karena antara rumah yang ditempati dengan sekolah jaraknya sekitar 3 km.

Biarpun hari-harinya terkadang harus makan nasi dengan mie instan saja, kalaupun ada yang istimewa itu pemberian uwak atau tetangganya bahkan ia pun adakalanya bersama sang adik harus puasa karena tak ada makanan yang bisa dimakan tetapi Ai bukanlah gadis belia yang mudah menyerah. Ia berusaha sekolah dengan baik dan terus belajar demi meraih cita-citanya yaitu selalu mengasah kemampuan yang dimilikinya. Nyatanya hal itu berbuah manis. Ai yang dianugerahi keceradasan yang baik, ia berhasil menunjukkannya dengan berhasil meraih rangking satu 4 semester berturut-turut.

Tidak itu saja, rupanya Ai pun memiliki talenta di bidang lain yang pantas untuk dibanggakan. Ai sempat meraih Juara I Lomba Cipta Puisi se Gugus 4 Kabupaten Bandung berjudul “Ilmu” (2012), juara II Lomba Mendongeng se-Gugus 4 Kabupaten Bandung (2012) serta Juara III Lomba Pupuh se-Gugus (2012). Ai pun tercatat pula sebagai siswa yang aktif di OSIS dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Dengan prestasi itu, Ai tetaplah anak yang sederhana. Kini yang duduk di kelas IX SMPN 1 Margaasih Kabupaten Bandung dan sebentar lagi ia akan melaksanakan ujian nasional. ,ka lulus Ai ingin melanjutkan sekolah ke SMK sementara untuk masuk ke sekolah tersebut butuh biaya yang tidak sedikit.

“Saya tetap memiliki keinginan untuk bisa bersekolah ke SMK dan bila Allah memberikan rezeki maka saya ingin pula melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun apakah mungkin dengan kondisi seperti ini saya akan bisa melanjutkan sekolah?” kata Ai penuh tanya seolah tak merasa yakin hal itu bisa diwujudkannya.

Memang untuk mencari biaya itu sangat berat. Hanya Ai tetap menyimpan harapan itu sangat kuat. Untuk mewujudkannya ia tetap belajar dengan baik dan mungkin itulah satu-satunya jalan yang bisa ia lakukan agar cita-cita itu bisa terwujud.

Persoalannya bagi Ai bukan saja untuk bisa meraih cita-cita di masa depan, untuk kebutuhan hariannya pun kadang menghadapi kondisi yang memprihatinkan. Namun karena terbiasa dalam beberapa bulan terakhir ini, Ai dan adiknya telah menganggap hal itu sesuatu yang biasa sembari dirinya berdoa agar mungkin ada solusinya yang bisa mengatasi problem yang tengah dihadapinya itu.

Ia justru sangat bersyukur tatkala memiliki uwak yang penuh perhatian dengan segala keterbatasan juga tetangganya yang tak pernah bosan membantunya serta orang-orang yang begitu peduli dengan keadaannya. Kadang Ai berpikir, kalaulah Allah tidak memanggil Sang Ibu dalam waktu cepat mungkin hidupnya tidak akan pernah seperti ini.

Namun Ai tak mau menentang takdir Allah. Semuanya sudah terjadi, yang terpenting bagi dirinya sekarang ini tetap berusaha. Memang beban berat harus dipikulnya, yang mungkin kata orang tak sesuai dengan keadaan dirinya. Tapi itulah kenyataannya dan hidup tidak akan pernah berhenti dan akan terus berjalan.

Dalam kesendirian sebagai gadis belia kadang Ai ingin memangis tetapi itu katanya tak cukup menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Ia terus berjalan melewati hari-harinya dengan hal-hal yang kadang sangat tak diharapkannya. Salah satu hal yang mampu membuatnya tetap tegar, ia masih yakin Allah bersama orang-orang yang sabar.

Ai yakin Allah selalu mendengar doa yang selalu dipanjatkannya usai shalat fardhu. Tak lupa pula ia melaksanakan shalat tahajjud serta membiasakan pula shaum Senin dan Kamis. Ada kalanya itu dilakukan sebagai ibadah namun adakalanya pula dilakukan karena tak ada makanan.

Bagi Ai, semua dia sadari sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya. Ujian yang begitu berat menimpanya jelas memang sangat menyakitkan namun haru dihadapi. Bila tak mampu menghadapinya maka ia akan sulit untuk menatap masa depan. Cita-cita harus mampu diwujudkannya untuk bisa mengubah kehidupannya saat ini. Ai ingin hidup bahagia dan hidup dengan segala keindahannya.

Ai sadar tak ada yang mustahil di atas dunia ini selama Allah berkehendak. Ia yakin apa yang menjadi cita-citanya akan terkabul. Ai tak pernah letih dan berhenti untuk berdoa kepada Allah karena semuanya akan terjadi tentunya atas kehendak-Nya. Ai akan terus berjuang untuk bisa mewjudkan impiannya.

Seperti diceritakan Ai Nurhasanah kepada Koresponden SABILI Kota Bandung, Deffy Ruspiyandy

Editor: Lufti Avianto


Bagi yang ingin membantu, silakan kirim donasi Anda ke rekening Bank Muamalat Norek: 0208967284  a/n Eman Mulyatman Laporan akan dimuat website mafaza-online.blogspot.com

Kalau sudah transfer kirim sms konfirmasi ke 0878 7648 7687 Dengan format: Nama/Alamat/Jumlah/Bank/Peruntukkan: Hasanah Bandung

Suzuki ERTIGA Solusi Kenaikan BBM
Share this article :

Posting Komentar