Rabu, 23 Januari 2013

Home » » World Muslimah Beauty 2012 RA Nina Septiani Hadiputri: Tak Ada Kata Terlambat Untuk Sebuah Kebaikan

World Muslimah Beauty 2012 RA Nina Septiani Hadiputri: Tak Ada Kata Terlambat Untuk Sebuah Kebaikan



R.A. Nina Septiani Hadiputro
World Muslimah Beauty 2012

Tak Ada Kata Terlambat Untuk Sebuah Kebaikan
Kenal dong sama Nina Septiani. Yup, dia dinobatkan the First Winner World Muslimah Beauty (WMB) di bulan September 2012 kemarin. Profile lengkapnya sih emang bertebaran di dunia maya sob. Tapi, eL-Ka punya kesempatan khusus nih buat wawancara sama cewe’ yang akrab dipanggil dengan nama Nina ini. Mau tau dong serunya dan pengalaman dia mengikuti ajang tersebut. Simak langsung yuks obrolan eL-Ka dengan Nina…








Langsung aja ya Nin, gimana ya ceritanya kamu bisa ikut World Muslimah Beauty?

Sebenarnya waktu awal ingin ikut sempat minder, karena boleh dibilang kalau dilihat dari tinggi badan, aku termasuk yang berkategori mungil. Tapi, karena ini berbeda dengan pageant (kontes kecantikan) yang lain dan memang berlabel muslimah, maka akhirnya aku memutuskan untuk ikut coba-coba.

Dan kebetulan di samping itu ada niat lain nih, yaitu ingin umrah tapi dengan uang sendiri. Selamai ini ngumpulin uang, tapi ya ternyata susah juga ya. Nah, di WMB sendiri kan ada hadiah umrahnya juga.

Waktu itu juga dikasih tau sama teman, ada event tersebut, dan cobalah untuk daftarin diri. Nggak berharap apa-apa juga waktu daftarin, disamping itu saat itu juga lagi sibuk-sibuknya mengurus sebuah event gitu.

Tapi, ternyata kemudian setelah daftar, aku masuk ke dalam finalis 100 besar. Cuma kondisinya waktu itu aku lagi dirawat di rumah sakit. Nah, begitu masuk 100 besar itu dikasih tau kalau aku harus bikin profile diri dalam bentuk video dan aku harus baca al-Qur’an di dalam video itu.


Sempat dua minggu dirawat di rumah sakit, begitu keluar dari rumah sakit aku langsung bikin videonya, dan itu mepet banget. Sehari sebelum batas akhirnya habis, aku baru bikin, dan kirim videonya besoknya.

Waktu itu juga yang bantuin bikin ada temanku, dan dia juga nggak pengalaman apa-apa soal bikin video. Ya kita bikin sesuai yang diarahin aja akhirnya. Jadi, pasrah aja waktu itu. Kita bikin pakai kamera digital. Terus bacaan al-Qur’an aku biasa-biasa aja. Jadi, lagi-lagi bener-bener pasrah.

Alhamdulillahnya nggak nyangka masuk 20 besar. Penentuannya itu berdasarkan video aja. Tapi video itu kan diupload di sosial media, jadi kita juga nggak bisa bohong kalau kita pura-pura pakai jilbab saat itu. Karena bisa jadi kalau kita bohong, ada orang lain yang akan komentar misalnya,”Eh, emang lo pakai jilbab ya.” Atau komentar yang lainnya.

Wow, subhanallah ya. Terus gimana ceritanya setelah masuk 20 besar?

Setelah diumumin 20 besar itu kita masuk karantina. Itu berlangsung selama sepekan di bulan September. Selama di karantina itu, kita dikasih materi macem-macem dari mulai tehnik modeling sampai membaca al-Qur’an dengan qira’ati.

Selain itu, di saat karantina kita ada satu sesi dimana kita juga diminta bermain dengan anak-anak yatim piatu. Waktu itu terserah kita mau mengajak anak yatim yang mana yang mau kita ajak main dari sekian anak-anak yatim piatu yang didatengin.

Nah, aku akhirnya milih dua orang dari mereka, karena aku pikir kalau lebih dari dua aku pasti nggak akan sanggup menghandlenya. Terus aku milih anak perempuan, karena aku pikir kalau anak perempuan lebih nurut lah. Kalau cowo’ aku sendiri agak rikuh.

Setelah itu ada sesi makan siang, mereka dikasih makan siang sementara kita hanya diminta untuk melihat mereka aja. Tapi, aku orangnya agak gregetan melihat anak-anak makan, kan mereka becanda, ngobrol. Akhirnya aku menawarkan diri ke mereka, “Kakak suapin aja ya.” Terus mereka mengiyakan tawaran aku itu. Dan aku senang-senang aja melakukan itu. Setelah itu kita perpisahan sama mereka.

Setelah itu masuk ke acara grand final?

Ya, tiga hari berikutnya, kita masuk ke acara grand final. Dan ternyata kita baru tau saat itu, kalau para anak yatim itu adalah juri kehormatan. Para juri yang ada di depan kita ternyata hanya dapat memilih sampai tiga besar.

Untuk menilai kita secara jujur, seberapa sholeh kita, dan lain-lain ternyata berdasarkan jawaban anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun. Dan anak-anak yatim yang dibawa kemarin berusia di bawah 10 tahun. Jadi, pada saat sebelum mereka pulang, mereka ditanya, dari kakak-kakak ini siapa. Ternyata mereka menjawab aku. Padahal kan yang aku ajak main waktu itu cuma dua orang. Mereka sendiri waktu itu ada 30 orang. Yang selain dua orang itu, aku sendiri masih bertanya-tanya kenapa mereka memilih aku.

Sebenarnya setelah 20 besar menjadi 10 besar kemudian masuk ke 5 besar, aku sendiri waktu itu aku udah bersyukur banget, dan nggak berharap apa-apa. Udah masuk 5 besar aja udah dapet umrah gratis dari panitia penyelenggara. Di samping itu saingannya semakin berat.

Setelah ditetapkan masuk ke 3 besar, aku udah nggak berpikir apa-apa lagi. Saat itu bayangannya di depan aku bukan lagi penonton melainkan Ka’bah. Dan makin tidak berpikir untuk menang, karena memang dua orang lainnya lebih tinggi dari aku dan secara prestasi mereka juga bagus. Waktu itu aku cuma berjanji dalam hati, insya Allah kalau aku menang maka sebagian hadiahnya akan aku sumbang ke anak-anak yatim piatu itu.

Kemudian ternyata aku terpilih masuk dalam 2 besar. Saat itu aku cuma bilang dalam hati, “Ya Allah kalau memang amanah ini untuk aku maka lancarkanlah dan bimibinglah aku menjadi seorang muslimah yang lebih baik lagi.”

Nggak lama seorang anak yatim keluar dan dia memilih aku. Anak tersebut adalah salah satu anak yang aku ajak main saat karantina. Kenapa anak itu yang dipilih, ternyata anak ini yang paling berprestasi di antara yang lainnya dan dia akan diajak ikut umrah bersama kita.

Saat menang mikirnya bukan dapet apa, tapi mikirnya ini amanah. Karena kan juga menyandang gelar muslimah ya. Jadi, kalau sebelumnya merasa belum menjadi muslimah yang bener. Lewat ajang ini baru belajar menjadi muslimah yang benar itu seperti apa.


Motivasinya apa sih mengikuti ajang ini?

Motivasinya yang pertama umrah. Kedua, pengen bikin orang tuaku menangis. Tapi menangis bukan karena sedih ya, tapi terharu karena bahagianya. Pertanyaannya kenapa harus punya motivasi seperti itu.

Karena kalau bikin mereka bahagia, ketawa-tawa. Liburan pun mereka bahagia, naik jabatan bahagia, dapet uang pun bahagia. Tapi, mereka nggak pernah bahagia sampai nangis.

Ketiga, motivasinya karena niatnya ini tahun terakhir aku ikut pageant jadi tahun depan aku ingin menikah. Ini terakhir deh, mikirnya gitu.

Pengalaman apa yang paling berkesan selama mengikuti WMB?

Yang berbeda dari pageant yang lain, misalnya dari segi karantina kita dibangunin sholat tahajud. Kemudian juga belajar membaca al-Qur’an lebih baik lagi.

Kemudian dari segi jurinya, jurinya nggak biasa. Bukan mereka para ahli yang duduk di depan kita, tapi anak-anak yatim piatu yang memilih kita.

Terus juga menurut saya ini pageant yang berbeda dengan yang lain yaitu kita justru mengenakan jilbab. Beda dengan kontes kecantikan lainnya yang harus pamer aurat di depan orang-orang yang bukan siapa-siapa kita. Padahal kita udah tau nih mau gimanapun juga Indonesia nggak akan menang bersaing dengan peserta dari negara-negara lain  

Di samping itu, WMB ini juga menjadikan wanita muslimah jauh lebih pede. Kalau sebelumnya beranggapan wanita muslimah nggak bisa ikut ini itu, terus nggak bisa menunjukkan prestasinya. Lewat ajang ini kita diminta untuk menunjukkan bakat dan prestasi kita.

Dari segi modeling misalnya, kita juga dituntut untuk tidak berpakaian serba ngetat dan ngepas. Walaupun kita nggak dimarahin, tapi kita merasa tersindir sendiri saat berkumpul dengan teman-teman yang lain yang memakai pakaian yang lebih longgar.

Sejak kapan kamu berhijab? Bisa diceritain pengalaman pertama kali kamu berhijab?

Pertama kali memakai jilbab itu tahun 2003, pas saat aku masuk SMP. Saat itu papahku yang minta. Katanya, “Kamu harus berjilbab ya, ketika seorang perempuan aqil baligh, Allah itu menyuruh untuk menutup auratnya, mengenakan jilbab.”

Tapi, saat itu aku nggak mau. Ya jiwa-jiwa ABG labil. Dan saat itu aku juga beraktifitas yang lain kayak modern dance, dan lain-lain. Sempat aku keberatan.

Papahku juga bukan orang yang memaksakan perintahnya. Akhirnya papahku bilang, oke kamu sehari pakai, sehari nggak. Ya aku menjalani seperti itu akhirnya. Tapi, lama-lama nggak nyaman juga, masa’ sehari pakai sehari nggak.

Akhirnya, baru total benar-benar pakai jilbab SMA kelas 1. Saat itu juga ikut pemilihan model sampul majalah muslimah gitu. Setelah itu, aku nggak melepas lagi jilbabku. Karena malu juga dong, masa di majalah pakai jilbab, tapi dalam kesehariannya nggak pakai.

Hikmah apa yang kamu rasakan setelah memakai jilbab?

Wah banyak, kalau mau diceritain bisa dua tahun nggak selesai-selesai, hehe… Tapi yang pasti pertama sebagai penjagaan diri kita sendiri. Kalau sebelumnya digodainnya macem-macem, kalau pakai jilbab kan paling mereka bilang Assalamu’alaikum. Jadi kita jutsru mengajak mereka buat berpahala juga.

Kedua, kalau soal seleksi teman-teman. Setelah berjilbab tersaring sendiri, mereka justru yang baik-baik. Buat aku lebih baik temanku sedikit tapi baik, daripada banyak tapi mengajak ke arah yang negatif. Terus dari sisi pekerjaan, juga terseleksi. Dan dari segi pengalaman jadi lebih positif.

Cita-citanya apa sih kedepan?

Menjadi seorang istri dan ibu. Karena ibadahnya menjadi seorang istri dan ibu itu besar banget. Dan yang dijanjikan itu surga. Perempuan itu kan madrasah buat anak-anaknya. Pengalaman dan pendidikan yang kita punya saat ini bekal buat kita mengajar anak-anak kita nantinya, dan berbakti terhadap suami.


Ada proses ibadah yang meningkat setelah ikut WMB?

Ada banget, jika sebelumnya jarang membaca al-Qur’an. Kalau sekarang sebisa mungkin sehari baca satu halaman al-Qur’an. Karena mikirnya kita bisa baca buku, internet bisa, tapi kenapa baca al-Qur’an nggak bisa. Kemudian sekarang berpikirnya 2,5 % itu wajib disisihkan. Kalau dulu sering disimpan sendiri. Sekarang justru malah 10 % itu wajib dikeluarkan untuk zakat, infak, dan sedekah.

Bagi mereka muslimah yang belum berhijab apa saran kamu?

Kalau buat mereka yang belum berjilbab, jangan takut. Biasanya ada perasaan takut, misalnya mikir akhlak masih begini, kelakuannya masih seperti ini. Justru pikirannya harus dibalik dengan berjilbab maka tentu memacu diri untuk menjadi lebih baik. Belum ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Akan tetapi akan selalu ada kata terlambat jika kita tidak mengikuti syariat yang telah ditetapkan.

(eLKa edisi 6/XX)

MAFAZA-STORE Lengkapi Kebutuhan Anda

MafazaOnline Peduli (MOP)
MOP Adalah dana yang dihimpun dari pembaca. Untuk membantu dakwah Islam.

Mari bersinergi, Kirim bantuan melalui
Bank Muamalat Norek: 020 896 7284
Syariah Mandiri norek 069 703 1963.
BCA norek 412 1181 643
a/n Eman Mulyatman

Setelah transfer kirim sms konfirmasi ke 0878 7648 7687 Dengan format: Nama/Alamat/Jumlah/Bank/Peruntukkan (Pilih salah satu)
1. Desa Binaan 2. Motor Dai 3. Peralatan Shalat
4. Wakaf Al-Qur’an 5. Beasiswa 6. Dunia Islam

Syukran Jazakumullah Khairan Katsira

Klik Juga:

BARBERQU 2013 (teBAR BERkah QUrban) 
 
     
Share this article :

Poskan Komentar